Taukah kalian alat musik apa yang  dipergunakan oleh WR. Soepratman untuk menciptakan lagu Indonesia Raya? Pada saat WR.soepratman memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya kepada semua peserta kongres pemuda pada tahun 1928, WR. Soepratman memainkan  biola. Alat musik inilah yang digunakannya untuk menciptakan lagu Indonesia Raya. Kisahnya, sudah dibacakan di pembukaan acara workshop biola yang bertemakan  pahlawan kemerdekaan RI pada  kamis, 27 agustus 2015 di SKH spectrum di kampung Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.

Berbarengan dengan “lebaran day” (acara tahunan skh spectrum) dan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang 70 tahun, workshop biola dilaksanakan. Sebelum workshop dimulai, Keyla (siswi workshop menceritakan kisah kehidupan WR soepratman.

Workshop ini diselenggarakan spectrum bekerjasama dengan alumni Hubungan Internasional Unpad81 dan para violist jalanan. Nama kegiatan workshop ini adalah “from street with love” yang merupakan projek yang di garap bersama oleh kak Uci bersama teman-teman alumni HI UNPAD 81. Sedangkan pelaksanaanya bekerja sama dengan violis jalanan. Menurut kak Uci, kegiatan ini dari mereka (violist jalanan),  untuk mereka  juga. 

“Tujuan workshop biola ini juga untuk  memperkenalkan alat musik biola kepada siswa/siswi  tk,sd,smp, & smk (workshop)spectrum. Juga untuk menggali potensi dan bakat siswa dalam bermusik terutama bermain biola. “kata kak Uci pencetus projek from street with love yang juga alumni SR ITB.

Setelah Keyla menceritakan kisah WR. Soepratman lalu kak Uci dan teman-temannya memainkan lagu Indonesia pusaka , & hari merdeka. Siswa/i juga ikut bernyanyi bersama dengan lantang dan semangat. Selain menyanyikannya dengan lantang dan penuh semangat, juga permainan biola,keyboard , bass & drum yang sangat harmonis dan teratur.

 Yang datang ke acara tersebut adalah orang tua siswa& seluruh siswa spectrum. Dan para siswa/siswi menggunakan pakaian yang sesuai dengan tema  “kepahlawanan” para siswa  sangat lucu dengan pakaian profesi masing-masing. Ada yang menggunakan baju perawat, polisi, tentara, pengacara, dokter, dan lain-lain.  Orang tua sangat senang menyaksikan para siswa dan guru2 spectrum menggunakan pakaian profesi.

Workshop biola tersebut merupakan kegiatan yang baru di spectrum. Karna baru kali ini ada kegiatan semacam itu  yang mengikut sertakan seluruh siswa. Dan seluruh siswa juga mencoba memainkan biola. Biola yang digunakan untuk mencoba berjumlah empat buah. Biola itu dibawa oleh para pemain biola tersebut yaitu kak Uci dkk.   Kemudian,  ada juga yang bernyanyi, bermain musik, dan menikmati irama musik kolaborasi antara para violist dan workshop band yang memainkan lagu-lagu perjuangan.  Kegiatan ini  sangat bermanfaat karna selain siswa menyukai juga para orang tua yang  menikmati acara, dapat mengetahaui minat dan bakat anaknya terhadap alat musik biola.         

                                                                  

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Spectrum mengalami kesulitan dalam membuat program anak-anak tersebut dikarenakan variasi yang meluas, sebagai contoh: dalam satu angkatan, misalnya kelas 5 bisa menggunakan lima jenis variasi Lembar Kerja Siswa (LKS), sehingga menghambat pencapaian target program yang sudah dicanangkan dari awal sekolah ini berdiri.

 

Seperti kita ketahui, Program Mainstream yang selama ini berjalan adalah program pendidikan yang mengacu pada kurikulum Nasional yang dikeluarkan oleh Depdiknas dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa-siswi Spectrum. Program mainstream ini memberikan pilihan pada siswa kelas 6 SD untuk mengikuti Ujian Nasional di kelas 6. Kriteria siswa yang masuk kelas mainstream adalah: siswa yang memiliki kemampuan akademik 60% dari target kurikulum Diknas. Jenjang pendidikan Mainstream ini dimulai dari kelas 4 (SD Mainstream) sampai dengan kelas 9 (SMP Maintream). Namun, pada kenyataannya pada beberapa siswa yang berada di jalur mainstream, mereka tidak mencapai target 60% di sisi lain mereka mempunyai potensi talenta yang sangat potensial untuk dikembangkan.

 

Dari hasil evaluasi tahun ajaran 2010 – 2011 di kelas 6 hanya beberapa anak yang sebenarnya mampu mencapai target 60% dari pelajaran sesuai Diknas, sebagian anak lainnya sangat sulit untuk mencapai target dikarenakan oleh kemampuannya dan minatnya yang sebenarnya lebih terfokus pada bidang lain di luar akademik. Spectrum sering mengalami kendala dengan beberapa harapan orang tua yang menginginkan status anaknya berada di Mainstream padahal kenyataannya, siswa tersebut mendapatkan kemandirian, sosialisasi, namun tidak optimal di bidang akademik dan kurang mendapatkan kesempatan di bidang skill dan produktifitas. Sehingga, sekolah Spectrum harus mulai melakukan penyeleksian siswa dengan target akademik 60% ini di tahun ajaran 2011 – 2012. Tujuannya adalah menyeragamkan kemampuan anak sesuai dengan tingkatan kelasnya dan tidak membuang waktu serta potensi anak jika pada dasarnya anak tidak sesuai untuk berada pada jalur Mainstream.!