Mengamati perjalanan perkembangan anak normal, seperti melihat mereka tersenyum, merangkak, berjalan, berlari, melompat dan berbicara hingga memasuki sekolah pada usia sekolah adalah hal yang sebenarnya sangat menakjubkan bagi para orang tua maupun para ahli.

Namun bagaimana jika hal itu tidak terjadi pada sebagian anak-anak kita, dimana mereka belum bisa berjalan di usianya, tidak mampu atau terlambat berbicara, tidak dapat diterima di lingkungan sosialnya dan paling menyedihkan tidak dapat diterima di sekolah umum.

Anak-anak ini pada umumnya mengalami gangguan dalam perkembangannya, baik gangguan yang mengenai tahap perkembangannya maupun gangguan yang bersifat emosional sehingga anak terkesan terlambat dibandingkan anak-anak seusianya.

Anak-anak dengan Gangguan Perkembangan biasanya memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang hampir sama, seperti:

  • Terlambat bicara.
  • Berbicara dengan tata bahasa yang tidak normal.
  • Terlambat berjalan.
  • Tidak ada reaksi ketika dipanggil.
  • Cenderung menghindari kontak mata.
  • Asyik bermain sendiri dan menghindari interaksi sosial dengan anak lain.
  • Tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat diam,selalu berlari kian kemari.
  • Adanya gerakan yang berulang-ulang seperti mengepak-kepakan tangan atau memukul-mukul pipi.
  • Memainkan jari, mengoyang-goyang tubuhnya.
  • Menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala,menggigit dan tidak peka terhadap rasa sakit.
  • Gangguan tidur dan makan, dll.

Sedangkan anak-anak yang mengalami hambatan dalam perkembangannya dikarenakan Masalah Emosi biasanya memiliki ciri-ciri atau karakteristik seperti:

  • Sulit atensi dan konsentrasi dalam belajar.
  • Nilai-nilai sekolah yang menurun.
  • Mudah merasa cemas.
  • Mudah marah atau sedih.
  • Cenderung kurang percaya diri.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Tangan berkeringat
  • Gangguan tidur dan makan.
  • Cenderung mempunyai self-concept yang negatif.
  • Seringkali muncul keluhan-keluhan fisik, misalnya sakit perut, pusing, mual, diare, gatal-gatal, dll.

Anak-anak dengan hambatan maupun gangguan dalam perkembangannya ini perlu mendapat perhatian dari para ahli serta support dari orang tua yang bertujuan membantu mereka agar dapat mengelola potensi yang ada sehingga mereka dapat mengontrol tingkah lakunya dan melaksanakan tugas-tugas perkembangannya. Diharapkan anak-anak ini dapat masuk ke lingkungan sekolah dan berbaur dalam kehidupan sosial yang normal.

Anak-anak dengan gangguan perkembangan dan masalah emosi jelas sangat membutuhkan terapi khusus dan pendidikan formal.

Terapi dan pendidikan formal yang dimaksud merupakan pendidikan yang mengkombinasikan terapi dan pendidikan formal yang bertujuan mengubah perilaku negatif anak menjadi perilaku positif, dengan berorientasi pada kelebihan dan kekurangan si anak, serta mempunyai tujuan jangka panjang mengantarkan mereka menjadi seseorang yang berhasil di bidangnya sesuai dengan kemampuannya.

Menurut perkiraan Direktorat Pendidikan Luar Biasa (PLB) jumlah anak berkebutuhan khusus usia sekolah adalah sekitar 1.500.000 anak, dari jumlah tersebut baru sekitar 52.000 yang tertampung dalam lembaga pendidikan atau setara dengan 3,5 persen saja.

Hal ini menunjukan bahwa lembaga khusus yang pada saat ini menangani anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah terlalu banyak dan mempunyai daya tampung yang minim.

Oleh karena itu merupakan kewajiban dari kita semua untuk membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus agar mereka mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan terapi yang sesuai dengan kondisinya serta pendidikan formal sehingga dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih baik ketika mereka dewasa.

Dengan adanya tantangan tersebut, maka didirikanlah Yayasan Pelangi Anak Indonesia (YPAI) pada tahun1998 yang membentuk unit kegiatan untuk memberikan pelayanan rehabillitasi, konsultasi dan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. YPAI berubah nama menjadi Yayasan Spectrum Mitra Anak Indonesia (YSMAI). YSMAI ini meneruskan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh YPAI sampai sekarang.