…tak ada sekolah menjadi orang tua…

 

 

Bagi kebanyakan orang, memiliki anak setelah menikah seolah terjadi begitu saja. Tiba-tiba kita mendapat sertifikat sebagai ayah atau ibu. Kita langsung mendapatkan job description: "mendidik dan membesarkan anak". Grogi ...? "Jelas." Ingin menjadi ibu berhasil atau ayah yang favorit, hero, dan selalu dicintai anak-anak? "Tentu saja." Punya ilmu menghandle dan memajukan "perusahaan" berisi pasangan dan anak-anak Anda? "Mmm..."

Buku ini mengajak kita untuk sedikit back-step, menarik napas, merenung, dan menengok ke belakang: Siapa sebenarnya diri kita yang sudah menjadi ayah dan ibu ini? Siapkah kita menjadi orang tua? Cukupkah bekal kita untuk memajukan perusahaan yang bernama keluarga? Bekal apa yang kita butuhkan selain materi?

Kumpulan curhat orang tua dalam buku ini niscaya mengasah empati Anda terhadap sesama orang tua. Anda pun dapat memetik aneka hikmah darinya. Di samping itu, refleksi, latihan, dan tips yang ditawarkan buku ini dapat mempermudah Anda membentuk sinergi kuat dan positif dengan anak Anda.

 

“Semua orang tua pada awalnya selalu merasa tahu, mampu bagaimana menumbuhkan, mengarahkan dan mendidik anak mereka sendiri. Sampai pada suatu ketika seorang Tisna Chandra berkata lain. Kini, seorang anak tak lagi sekadar lembaran kosong yang memerlukan wejangan dan resep-resep orang tuanya. Mereka adalah produk zaman yang bias jadi sebuah kitab yang patut disimak sampai kalimat yang terakhir ...”

(PutuWijayabudayawan)

 

“Setiap manusia unik dan tidak ada yang sama. Tanpa disadari, dari anak-anaklah banyak pelajaran mengenai kehidupan yang meng-ajarkan kita sebagai orangtua harus bijak, harustahu, harus paham. IbuTisna menggambarkan bagaimana bentuk sinergi antara orangtua dan anak-anaknya. Orangtua hanyalah mediator dan fasilitator tanpa harus mencetak anak seperti apa yang mereka inginkan.”

(SorayaHaque)