Special Care (program 3 tahun)

 

 

Program yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang perilakunya masih membutuhkan penanganan khusus.

 

Tujuan program Special Care:

 

·       Membuat rutinitas sehari-hari dengan melatih Activity Daily Living (ADL) yang dapat diaplikasikan di kehidupan luar sekolah.

·       Mengurangi tingkat gangguan emosi, agresifitas agar tenang dengan bantuan supervisi psikiater, psikolog dan perawat.

·       Mencapai target akademik calistung sederhana.

·       Membuat anak rileks dengan melakukan Relaksasi Terapi.

·       Melatih kemampuan Social Skill anak.

 

 

Lima program utama dalam pendidikan Special Care adalah:

  1.  Akademik Sederhana: melalui permainan, bernyanyi, musik, dsb.
  2.  Komunikasi: untuk melatih anak agar dapat bertanya, menyampaikan keinginan,   memilih, meminta pertolongan, dsb.
  3.  Behavior/perilaku: untuk mengatasi perilaku agresif, perilaku mengganggu lainnya, dan bagaimana seharusnya berperilaku yang baik.
  4.  Life Skills/keterampilan kemandirian: pembiasaan untuk melakukan sendiri hal-hal yang dibutuhkan untuk kehidupannya sehari-hari.
  5.  Social Skills/ketrampilan sosialisasi: mengajar anak bagaimana merespons orang lain agar dapat bekerja sama, mampu sharing dengan teman.

 

Kelima program dilakukan secara berjenjang, kontinu, berkesinambungan agar anak mempunyai kemampuan untuk mandiri sehingga dapat diarahkan untuk menekuni suatu keterampilan yang kelak dapat menunjang kehidupannya.

Usia minimum siswa adalah 12 tahun.

Tenaga Pendidik: psikolog, psikiater, guru khusus, caregivers.

 

 

 

 

 

Sekolah Umum/Mainstream (kelas transisi SD, kelas 1 – 6 SD, kelas 7 – 9 SMP). 

 

a.       Kelas Transisi SD (program 6 bulan – 2 tahun)

Tujuan kelas transisi adalah: mempersiapkan anak untuk masuk sekolah dasar  baik dari sisi kemandirian, emosi maupun akademis. Kelas transisi berbentuk kelas yang terdiri dari 5 sampai 7 anak per kelasnya. Program kelas transisi menekankan pada kemampuan anak untuk mengikuti instruksi dan kemampuan sosialisasi.

 

b.      Kelas 1 – 9 (SD/SMP) (program 9 tahun)

Siswa-siswi di sekolah Umum/Mainstream ini biasanya memiliki kendala kekhususan yang unik pada masing-masing siswa, tetapi memiliki kemampuan yang cukup baik di sisi akademik. Kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum Diknas 1994 dan KTSP 2006 yang diberikan dengan menggunakan metode:

§  IEP (Individual Education Program), dimana setiap siswa mempunyai program individual sesuai kemampuan dan potensi yang perlu digali dan dikembangkan.

§  IET (Individual Education Touch), pendekatan dan bimbingan para guru dan ahli sesuai dengan keunikan siswa.

§ CEP (Class Education Program), menggunakan kombinasi Kurikulum Nasional dan kurikulum kebutuhan khusus sehingga diharapkan peserta didik akan mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

 

 

 

 

 Sekolah Workshop/Sekolah Kejuruan (program 4 tahun)

 

Program sekolah Workshop/Sekolah Kejuruan terfokus pada pengembangan skill dan produktifitas, yaitu siswa dipersiapkan agar mampu mandiri, dan produktif menghasilkan karya-karya yang bias dijual ke pasaranSiswa dipersiapkan untuk memiliki skill dan produktifitas sesuai dengan target keterampilan masing-masing.

 

Akademik pada program ini seluruhnya diaplikasikan langsung pada pelatihan skill dan produktifitas, misalnya di program seni batik:

1.         Pelajaran matematika: diaplikasikan pada pengukuran kain, motif, penjumlahan motif dsb.

2.        Wawasan pengetahuan: memperluas wawasan dengan membaca buku-buku tentang batik dan sejarah berdirinya batik dan research tentang mode batik, dsb.

3.      Bahasa Indonesia: mengarang tentang ide-ide dalam pembuatan batik dan mengomentari batik-batik yang ada/ditemukan.

4.       Produktifitas dan kreatifitas: mempelajari dan membuat aneka ragam batik sesuai dengan contoh dan kreatifitas masing-masing anak untuk melihat originalitas dari siswa tersebut.

5.    Bisnis: menghitung berapa produksi batik yang dihasilkan per bulan dan menjual ke pasaran dan menghitung berapa banyak hasil yang didapat.

6.         Sistem akuntansi sederhana: untuk menghitung penghasilan.

7.         Program leisure time, sosialisasi, olah raga, brain gym.

 

Diharapkan dalam kurun waktu empat tahun, siswa sudah mulai mandiri menjalankan usaha yang berhubungan dengan produktifitasnya.

 

Siswa-siswi dalam program workshop adalah siswa-siswi:

·      Sudah lulus dari SD Umum/Mainstream Spectrum atau SD lainnya

·      Minimum berusia 12 tahun

·      Memiliki gangguan motorik yang ringan

·      Memiliki potensi yang tinggi ke arah pengembangan skill dan produktifitas.

·      Memiliki gangguan emosi dan behavior ringan

·      Mengalami kesulitan dalam mengikuti target akademik di sekolah mainstream

Sekolah Workshop saat ini memiliki sembilan (9) jenis pengembangan keterampilan, yaitu:

1.    Seni Batik

2.    Seni Keramik

3.    Seni Lukis

4.    Cetak Saring atau Sablon

5.    Kriya (Perhiasan)

6.    Menjahit

7.    Musik (Keyboard, Drums, Guitar)

8.    Vokal dan Tari

9.    Komputer 

 

Tenaga Pembimbing: adalah para guru yang berkompeten di bidangnya dengan latar belakang pendidikan yang relevan.